Mencari nafkah adalah bagian dari Perintah Tuhan. Manakala berbisnis dalam rangka melaksanakan perintah tersebut, maka bisnis bukan lagi sekedar menghasilkan uang, namun lebih dari itu, ketenteraman hati pun akan otomatis mengiringinya. Bisnis adalah salah satu medan penghambaan kita kepada Tuhan. Sedangkan laba atau rugi hanyalah sebuah konsekuensi logis sebagai akibat yang mengikutinya. Dengan demikian, sepanjang tujuan niat dan caranya benar, maka tidak ada kata gagal dalam bisnis kita. Ruginya baik, apalagi labanya.

MANUSIA BEBAS DALAM KETERPAKSAAN, KONTRADIKTIF?

Kontributor Topik:
Mas Tri, Jembatan Tiga, 18 Juni 2009.
Penyiar: Dave Ameral.

Siwo pernah membahas tentang tafsir Al-Qur'an tentang keterpaksaan manusia dan kebebasan manusia. Hal ini agak kontradiktif. Mohon dijelaskan.




Kalau saya dulu pernah membahas tafsir suatu ayat, pasti tidak. Saya tidak lagi berani membahas tafsir dari sebuah ayat. Jadi kalau tadi yang saya tangkap itu kalau bahwa saya pernah membahas tafsir sebuah ayat, nggak. Saya tidak pernah berani lagi. Ya, itu minimal tiga tahun terakhir deh. Untuk menafsiri sebuah ayat itu syarat-syaratnya itu dia harus piawai bahasa arab, harus juga sastra Arab, hanya dengan kesucian bisa masuk kepada makna-makna ayat yang mutasyabih, bisa berfikir aqliyah, minimal mengerti kaidah-kaidah aql, minimal mengerti kaidah-kaidah universal dari bagaimana berasio, harus memahami mana ayat yang muhkamat dan mutasyabihat, ayat yang mutasyabihat tidak boleh disentuh kecuali oleh kesucian, butuh bagaimana konteks ayat itu diturunkan. Saya minimal tiga tahun belakangan ini tak lagi berani menafsiri ayat, saya lebih baik menggunakan "Ini yang saya fahami".

Manusia itu ada sisi keterpaksaan tapi juga ada kebebasan, ini kok terkesan kontradiktif?. Perlu kita sambungkan dengan hukum yang tadi. Didalam hal-hal yang terkait dengan hukum takwini itu kita terpaksa, kita ini tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai contoh yaitu keterpaksaan kita untuk hidup di bumi, keterpaksaan kita bahwa kita butuh udara, keterpaksaan bahwa semua yang hidup itu akan mati, kita terpaksa dipengaruhi oleh gravitasi bumi, keterpaksaan bahwa jantung kita berdetak, hal-hal tersebut adalah keterpaksaan dan hal-hal yang tidak bisa kita hindari. Cukup banyak keterpaksaan-keterpaksaan, itu dikaitkan hampir semuanya terkait dengan hukum-hukum takwini Ilahi, hukum-hukum yang sudah dituangkan dalam hukum-hukum sunnatulloh Ilahiyah didalam alam ini, antara lain disana ada hukum sebab-akibat. Kita tidak bisa keluar dari hukum sebab-akibat, ini sebuah keterpaksaan.

Lalu dimana letak kebebasan? Letak kebebasan ada dalam hukum tasyr'i. Alloh memberikan panduan hidup "kalau kamu ingin baik jadilah jangan egois" disitu kita bebas, kita bisa memilih menaati perintah itu untuk tidak egois, dan kita juga bisa tidak mentaati perintah tersebut, itulah kebebasan kita dengan resiko tanggungjawab masing-masing. Kita boleh mengimani Tuhan, kita juga boleh mengingkari Tuhan, resiko tanggung sendiri, disitu ada kebebasan. Kita boleh beriman, boleh kafir, boleh taat, juga boleh ingkar, boleh selingkuh, boleh setia, boleh jujur, boleh berbohong, boleh marah, boleh tigak marah, boleh egois, boleh bertanggungjawab, dsb, itu semua terkait dengan hukum tasyri'i Ilahi. Pada saat kita sedang membahas kata maka kata keterpaksaan itu memang kontradiktif dengan kata kebebasan. Tetapi pada saat konteks manusia yang sebagai makhluk Tuhan, dalam sisi manusia itu ada keterpaksaan dan kebebasan, itu bukan kontradiktif.

Andai diantara teman-teman ada yang hendak sharing, mengkritisi atau mempertanyakan, silahkan call langsung ke 0817449295 (proXL) pada jam 10-12 WIB siang/malam. Mohon dimaafi, Email dan SMS kami nonaktifkan, karena tidak mampu melayani. (salam kami: siwo salatiga).
Bagi yang berkenan untuk SHARE ke FB, Tweeter, dll, dipersilahkan. Semoga berkah.