Mencari nafkah adalah bagian dari Perintah Tuhan. Manakala berbisnis dalam rangka melaksanakan perintah tersebut, maka bisnis bukan lagi sekedar menghasilkan uang, namun lebih dari itu, ketenteraman hati pun akan otomatis mengiringinya. Bisnis adalah salah satu medan penghambaan kita kepada Tuhan. Sedangkan laba atau rugi hanyalah sebuah konsekuensi logis sebagai akibat yang mengikutinya. Dengan demikian, sepanjang tujuan niat dan caranya benar, maka tidak ada kata gagal dalam bisnis kita. Ruginya baik, apalagi labanya.

TAKDIR DEFINIT & TAKDIR NON-DEFINIT

Kontributor Topik:
Mbak Piping, Tangah Abang, Jakarta Pusat, 02 April 2009.
Penyiar: Dave Ameral.

Saya mau tanya tentang taqdir. Taqdir yang datangnya dari Alloh dan taqdir yang datangnya oleh ulah manusia sendiri. Itu aja, terimakasih Siwo.




Taqdir, sepanjang yang saya pahami, adalah seluruh ukuran, seluruh kadar, yang dikadarkan oleh Sang Maha Pengkadar, Tuhan yang Maha Esa, Alloh swt. Setiap makhluk mempunyai ukuran-ukuran, setiap ciptaan terbatasi oleh kadar-kadar. Hanya satu yang tak terbatasi dengan ukuran dan kadar, yaitu yang Maha Sempurna. Setiap alam cipta, setiap entitas makhluk apapun, besar maupun kecil, jasadi maupun yang non-jasadi, syahadah maupun yang ghoib, semua dibatasi dengan taqdir-taqdir.

Tidak ada sesuatupun yang mampu keluar dari taqdir. Taqdir melingkupi seluruh keberadaan, keberadaan makhluk, keberadaan ciptaan. Batu punya kadar, tumbuhan punya kadar, hewan punya kadar, manusia punya kadar, jin punya kadar, manusia punya kadar, malaikat punya kadar, iblis punya kadar. Hanya satu yang tidak punya kadar, Alloh swt. Seluruh para utusan Alloh punya kadar. Guru seluruh para utusan, kanjeng malaikat Jibril juga punya kadar. Hanya satu yang tidak punya kadar, yaitu Alloh swt, karena Alloh tak terbatasi oleh apapun. Nah tuh.. apa taqdir itu ya? Mungkin kalimat yang mudah begini, taqdir adalah ukuran dan kadar yang ada pada seluruh sudut-sudut alam cipta ini. Jadi apakah manusia bisa keluar dari taqdir, tidak bisa.

Dalam kelompok besarnya, taqdir ini dibagi menjadi dua, taqdir makhtum dan taqdir yang mu'allaq, taqdir yang definit & taqdir yang non definit. Taqdir yang makhtum atau yang definit itu adalah kadar yang pasti tidak bisa di tolak, tahu atau tidak tahu maka dia pasti terjadi. Makhluk yang mempunyai kehendak bebas tidak mampu menghindar darinya dari taqdir yang definit, dari taqdir yang makhtum. Berbeda dengan taqdir yang mu'allaq, taqdir yang non definit, taqdir yang bisa dipilih, ini nanti terkait kepada pertanggungjawaban kehendak bebas manusia dan bebas pilih kita. Kita tidak bertanggungjawab terhadap taqdir yang definit, tapi kita bertanggungjawab dalam memilih taqdir-taqdir yang non definitif.

Tapi taqdir definit mengatakan, paling tidak sepanjang yang saya tahu, bahwa seluruh yang hidup dia akan mengalami mati. Kita berbicara tetang makhluk. Hanya satu yang tidak pernah mati, Alloh swt. Itu taqdir definit, orang mau rela, mau tidak rela, dia mau tahu, mau tidak, mau pandai atau bohoh, beriman atau kafir, munafik atau musyrik, semua kena yang disebut dengan taqdir yang definit, taqdir yang makhtum.

Berbeda dengan umur. Umur adalah panjang rentang dari lahir ke mati. Umur itu tidak sama dengan mati. Kalau mati itu taqdir yang definit, kalau umur itu taqdir yang non definit. Kita bisa perpanjang umur kita, kita bisa perpendek umur kita. Kalau ingin memperpendek umur, berdiri aja di tengah rel pada saat kereta api melaju kencang. Itu kita memperpendek umur. Kalau mau memperpanjang umur, makan teratur, yang halal, yang bergizi. Jadi dalam masalah umur kita diberi bebas pilih, mau lebih panjang atau lebih pendek, meskipun tetap ada batas diskualifikasinya.

Siapa yang mau kenyang, makan. Kalau tidak makan, lapar. Nah, kita pilih taqdir yang mana? Kalau kita mau taqdir kenyang, yuk makan. Kalau ingin ketemu taqdir yang lapar, jangan makan. Jadi disana ada pilihan, ada kebebasan kita untuk memilih. Dan kebebasan untuk memilih itulah yang nanti harus kita pertanggungjawabkan, dan itu setiap pilihan dari saat ke saat, dari hari ke hari di dalam memilih taqdir yang non difinitif itu yang akan membentuk surga kita atau akan membentuk neraka kita sendiri-sendiri.

Sepanjang yang saya tahu, taqdir itu tidak pernah bisa diingkari. Kemanapun orang pergi, kemanapun orang berlari, dia pasti akan bertemu taqdir. Pada saat dia lari dengan kebenaran-kebenaran, dia akan mendapatkan taqdir kedamaian, kebahagiaan. Barang siapa yang dia berlari melaui jalan-jalan yang tidak benar, maka dia sedang menuju taqdir kesengsaraannya sendiri. Itu terkait dengan taqdir yang non definitif. Kalau kita mampu mengagendakan mana-mana yang taqdir definitif dan mana-mana taqdir yang non definitif, o.. kita akan jauh lebih mudah untuk menapaki proses menuju kesejatian diri. Tapi kalau kita kacau dalam memahami mana taqdir yang definit dan mana taqdir yang non definit maka sikap kita dalam menghadapi problem diri kita juga problem di luar diri kita maka kita terjebak pada pemahaman kita itu.

Andai diantara teman-teman ada yang hendak sharing, mengkritisi atau mempertanyakan, silahkan call langsung ke 0817449295 (proXL) pada jam 10-12 WIB siang/malam. Mohon dimaafi, Email dan SMS kami nonaktifkan, karena tidak mampu melayani. (salam kami: siwo salatiga).
Bagi yang berkenan untuk SHARE ke FB, Tweeter, dll, dipersilahkan. Semoga berkah.