Mencari nafkah adalah bagian dari Perintah Tuhan. Manakala berbisnis dalam rangka melaksanakan perintah tersebut, maka bisnis bukan lagi sekedar menghasilkan uang, namun lebih dari itu, ketenteraman hati pun akan otomatis mengiringinya. Bisnis adalah salah satu medan penghambaan kita kepada Tuhan. Sedangkan laba atau rugi hanyalah sebuah konsekuensi logis sebagai akibat yang mengikutinya. Dengan demikian, sepanjang tujuan niat dan caranya benar, maka tidak ada kata gagal dalam bisnis kita. Ruginya baik, apalagi labanya.

MACAM-MACAM DAKWAH

Kontributor Topik:
Mas Taufik, Tangerang, 09 April 2009.
Penyiar: Dave Ameral.

Bagaimana menurut Siwo tentang ungkapan Islam disebarkan dengan pedang? Yang saya tangkap begitu. Soalnya gini, dari sejarah-sejarah kok kayaknya kesan itu ada ya. Sama nanti disambungin tentang isu-isu perang di zaman Rosul di sharingin terus ke era sekarang? Gitu aja.




Agama yang turun dari Alloh swt itu punya misi visi pembangunan dengan jalur-jalur kebenaran dan kedamaian, agar kita hidup ini lebih tenang, lebih damai, lebih tentram dalam kebenaran, dalam kedamaian dan dalam rangka kita menyempurnakan diri.

Kadang, hal-hal yang kebalikan dari fungsi itu mungkin saja terjadi pada perjalanan sejarah agama-agama. Agama bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang bertentangan dengan kedamaian, bertentangan dengan kebenaran. Ada agama yang dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu dalam rangka yang bertentangan dengan essensi agama itu sendiri. Esensi agama sangat mungkin terjadi tergeser dari nilai-nilai aslinya, sehingga agama bisa dikemas untuk menggelorakan peperangan-peperangan, menggelorakan kebencian kepada kelompok lain, agama juga dimanfaatkan untuk menguatkan ego kelompoknya dan menyudutkan kelompok selainnya, agama juga bisa dipakai untuk alat legitimasi menghancurkan pihak lain. Itu terkait kepada personal para pengikutnya.

Apakah ada metode dakwah dalam perjalanan sejarah ummat Islam ini yang menggunakan cara-cara kekerasan? Kalau kita membaca realitas sejarah, atau mungkin realitas kekinian, jawabannya adalah, iya, ada. Bahkan saya pernah mengalami yang seperti itu. Mungkin karena didorong semangat yang kurang proporsional, kalau tidak cocok dengan pendapat saya, lalu saya bikin perdikat-predikat kepadanya..., yang ente kepala batu lah.. yang ente itu norak lah.. sampai kepada jahil-lah.., hati ente sudah terkunci mati lah... dan lain-lain, sampai berani menyesatkan orang lain. Itu pernah saya alami. Itu sebuah bentuk pengalaman kecil dalam sejarah hidup saya. Tidak semua niat baik itu bisa terimplementasi dengan baik kalau kita tidak memperhatikan proporsional-proporsionalitas yang terkait.

Itu contoh kecil bahwa dakwah itu bisa dilakukan dengan cara-cara yang salah, dakwah bisa dilakukan dengan cara pemaksaan kepada pihak lain, dakwah bisa dilakukan sambil melecehkan pihak lain. Itu saya alami, itu contoh kecil sejarah saya. Apakah sejarah-sejarah yang semodus itu mungkin terjadi dalam sejarah umat, perjalanan umat Islam ini? Kalau saya belajar di dalam sejarah, saya tidak mungkin untuk menyatakan tidak ada, ada kok yang seperti itu. Kayaknya kita nggak harus jauh-jauh dalam sejarah, kalau kita mengikuti berita-berita, mengkikuti perkembangan-perkembangan yang terkait dengan perjalanan dakwah masa kini, kayaknya model-model seperiti itu masih ada kok, dan kita bisa melihat dengan sangat nyata.

Tapi ingat, kita tidak bisa menng-general, kalau ada yang begitu maka semua begitu, nggak kan. Yah.. ada yang mendakwahkan Islam itu dengan santun, dengan damai, dengan persahabatan, dengan persaudaraan, dengan menghargai pihak lain, tidak memaksakan pendapat, dan seterusnya. Meskipun, juga ada yang menyebarkan dakwah Islam itu dengan cara-cara kekerasan bahkan sampai pada bentuk-bentuk peperangan. Meski bukan seluruhnya seperti itu.

Apakah peperangan Rosul pada zaman Beliau hayat itu merupakan cara dakwah Beliau? Saya dengan sangat tegas mengatakan, tidak. Seluruh perang yang terjadi pada zaman Beliau itu seluruhnya merupakan sebuah keterpaksaan karena ingin membela diri. Devensif, bukan ovensif. Kalau Iraq menyerang Quwait itu ovensif, kalau Amerika menyerang Iraq itu ovensif, tapi Rosululloh berperang itu devensif, dalam rangka membela diri dan melindungi orang-orang yang perlu dilindungi. Jadi perang adalah sebuah keterpaksaan didalam dakwah. Maka tidak boleh menggunakan perang kecuali itu merupakan jalan keluar terakhir, emergency, dhoruri. Meski dalam perang, semangatnya adalah perdamaian, semangatnya adalah persatuan, semangatnya adalah kebenaran, tidak boleh mengkhalalkan segala cara. Jadi, perang, tapi tidak dengan semangat membunuh, tapi dengan semangat damai. Karena perang itu adalah perang devensif dalam keterpaksaan yang emegnecy dan dhoruriat.

Apakah teladan Rosul itu dipraktekkan didalam sejarah para pengikutnya? Nah, disitu berbeda-beda, ada yang perangnya itu justru ovensif. Ada yang dakwah dengan kekerasan, ada yang membunuh dengan atas nama Tuhan, ada yang membunuh atas nama agama. Ada yang menggunakan cara dakwah dengan benar, ada juga yang menggunakan dakwah dengan tidak benar, bahkan ada yang sampai bertentangan dengan misi dari essensi agama itu diturunkan.

Andai diantara teman-teman ada yang hendak sharing, mengkritisi atau mempertanyakan, silahkan call langsung ke 0817449295 (proXL) pada jam 10-12 WIB siang/malam. Mohon dimaafi, Email dan SMS kami nonaktifkan, karena tidak mampu melayani. (salam kami: siwo salatiga).